Butuh Jembatan, Pelajar SD di Enok Hanyut dan Tewas Bertepatan Hari Pendidikan Nasional

Daerah261 Dilihat

Faktaberita.online, INHIL,-

Masih segar diingatan, peristiwa kecelakaan terbaliknya speedboat dari Kabupaten Inhil, Evelyn Calisca 01, pada 27 April 2023 lalu, yang menghebohkan pengguna jasa transportasi perhubungan laut, akibat meninggalnya belasan korban, juga kecelakaan kapal pompong pada 2 Mei 2023 di Kecamatan Gaung, yang menewaskan 2 orang usai mencari pucuk nipah. Sabtu 06/05/2023

Di hari yang sama seorang pelajar SD di Kecamatan Enok hanyut dan ditemukan meninggal dunia terbawa arus sungai saat menyeberang pulang dari sekolah.

Peristiwa naas ini terjadi bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, yang mana seharusnya siswa sisiwi pulang sekolah membawa ilmu untuk bekal dirinya, malah membawa kabar duka.

Dialah SA (8), siswi kelas II SD Negeri 20 Suhada. SA (8) merupakan warga Parit Nenas Dusun Sepakat, Desa Sungai Rukam, dusun paling ujung di Desa Sungai Rukam.

Sekolah SD terdekat ialah berada di desa tetangga. Sebenarnya di Sungai Rukam sendiri terdapat empat sekolah dasar, namun letaknya jauh sekali dengan Dusun Sapakat, kampung SA (8)

Sehari-hari anak-anak Dusun Sepakat berangkat dan pulang sekolah dengan cara menyeberangi Sungai Enok yang lebarnya kurang lebih 35 meter dengan sampan dan ditemani orang dewasa tentunya. Selain berarus deras, Sungai Enok juga didiami binatang buas seperti buaya.

SA (8) saat itu pulang dari sekolah bersama 4 orang teman-temannya. Entah mengapa ke lima pelajar yang masih bocah-bocah ini nekat menyeberang pulang Sekolah dari Desa Suhada menuju Dusun Sepakat menggunakan sampan, tanpa didampingi orang dewasa.

Memang benar air sungai saat itu dalam keadaan surut, namun berarus sangat deras. Ke lima pelajar berseragam putih merah, berdasi Tut Wuri Handayani ini satu persatu menaiki sampan dan mulai mengayuh.

Tiba-tiba sampan yang mereka gunakan terbawa arus saat berada di tengah sungai, pada akhirnya sampan tersebut terbentur dengan sebatang pohon yang melintang dan perlahan karam.

Empat siswa berhasil selamat berpegang dengan batang pohon tersebut, namun naas SA (8) tenggelam dan hanyut terbawa arus.

Proses pencarian pun segera dilakukan. SA (8) ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, masih mengenakan seragam sekolah. Keluarga, teman dan tetangga menyambut kepulangan jenazah SA (8) dengan isak tangis.

Kepala Desa Sungai Rukam, M. Agus Amin saat dikonfirmasi menjelaskan antara Dusun Sepakat Desa Sungai Rukam, dengan Parit Bangka Desa Suhada memang tidak ada jembatan.

“Jika menyeberang masyarakat menggunakan sampan karena tidak ada jembatan, yang ada hanya dermaga kayu,” jelasnya.

Pada Musrenbangdes beberapa tahun lalu telah direncanakan pembangunan dermaga permanen, namun Kades menyebut terkendala dengan wabah Covid.

“Karena Covid, keuangan tidak memadai dermaga juga belum bisa dibangun. Untuk itu, tahun 2020, kami Pemdes telah menyerahkan 1 unit sampan besar untuk transportasi penyeberangan masyarakat,” kata Agus.

Ia berharap adanya pembangunan dermaga permanen atau jembatan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Inhil.

“Kalau jembatan tidak bisa karena anggaran besar, paling tidak ada dermaga di Dusun Sepakat,” harapnya.

Sementara itu, Kamis malam (4/5), mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tembilahan, duduk berbincang sambil berdiskusi mencari solusi dengan salah satu anggota DPRD Inhil, agar di Dusun Sepakat Desa Sungai Rukam, Kecamatan Enok, bisa dibangunkan jembatan untuk akses anak-anak pergi ke sekolah dan aktivitas masyarakat sehari-hari.

Mereka berharap para pemangku kebijakan terketuk hatinya untuk segera membahas langkah konkret tidak adanya akses yang aman bagi pelajar di Dusun Suhada.

SA (8) mungkin salah satu dari sekian banyak pelajar yang menempuh perjalanan menuntut ilmu dengan mempertaruhkan nyawa karena tidak didukung dengan fasilitas sarana prasarana umum yang memadai.

(Andre)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *